Abstrak
Rohingya adalah kelompok etnis minoritas, dengan mayoritas tinggal di negara bagian Rakhine, Myanmar.Ini adalah kelompok yang pernah mengalami diskriminasi, pengucilan,dankekerasan sistematis di Myanmar pada masa lalu.Kebanyakan dari mereka adalah Muslim dan mengalami berbagai bentuk penindasan dan pembatasan terhadap hak-hak sipil dan asasi manusia, termasuk pembatasan yang signifikan terhadap hak-hak sipil.Situasi ini memaksa banyak warga Rohingya mengungsi ke negara tetangga dan belahan dunia lain, termasuk Indonesia.Pendapat Mahasiswa mengenai komunitas Rohingya dapat berbeda-beda tergantung pada pengetahuan, pengalaman, dan perspektif pribadi mereka.
Dalam konteks ini, pendidikan, peningkatan kesadaran dan diskusi yang lebih luas mengenai isu-isu kemanusiaan yang dihadapi komunitas Rohingya akan membantu menciptakan pemahaman yang lebih baik di kalangan pelajar dan masyarakat umum.
Katakunci— Etnis Minoritas, Isu Isu Kemanusiaan, Hak Asasi Manusia Rohingya
The Rohingya are an ethnic minority group, with the majority living in Myanmar’s Rakhine state. This is a group that has experienced systematic discrimination, exclusion and violence in Myanmar in the past. Most of them are Muslims and experience various forms of attachment and attachment to civil and human rights, including significant attachment to civil rights. This situation has forced many Rohingya to flee to neighboring countries and other parts of the world, including Indonesia. Students’ opinions about the Rohingya community can vary depending on their knowledge, experience and personal perspective.
In this context, education, awareness raising and wider discussion of humanitarian issues affecting the Rohingya community will help create better understanding among students and the general public.
Keywords—Ethnic Minorities,Humanitarian Issues,Rohingya Human Rights
- PENDAHULUAN
Indonesia secara historis telah menghadapi banyak masalah kebijakan masyarakat. Salah satu masalah utama adalah kedatangan komunitas Rohingya, yang merupakan kelompok etnis minoritas yang telah mengalami pelecehan dan pelecehan di Myanmar. Mereka memengaruhi kebijakan pemerintah dan interaksi sosial di seluruh masyarakat Indonesia.
Sangat penting untuk mempelajari lebih lanjut tentang kebijakan yang berkaitan dengan orang Rohingya di Indonesia karena itu mencakup aspek kemanusiaan serta aspek geopolitik, ekonomi, dan sosial. Kebijakan yang berkaitan dengan penerimaan dan integrasi orang Rohingya menjadi perhatian utama dalam hal ini, dan menimbulkan tantangan yang rumit bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia.Rohingya, sebuah kelompok etnis minoritas di bagian barat laut Myanmar, telah lama menghadapi diskriminasi, kekerasan, dan penindasan oleh pemerintah setempat. Kebijakan yang merugikan mereka, seperti tidak diakui sebagai warga negara, telah menyebabkan mereka kehilangan akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan kesempatan pekerjaan yang mendasar.Pada tahun 2017, serangan militer Myanmar terhadap Rohingya menyebabkan krisis kemanusiaan yang mengakibatkan ribuan kematian. Banyak dari mereka melarikan diri ke Bangladesh untuk mencari perlindungan, tetapi dihadapkan pada kondisi kamp yang sangat sulit dengan kekurangan makanan, kesehatan, dan sanitasi.
Meskipun komunitas internasional telah mengutuk kebrutalan terhadap Rohingya dan mendesak Myanmar untuk menghentikan kekerasan serta memberikan hak yang adil, bantuan kemanusiaan yang diberikan belum menyelesaikan masalah jangka panjang.Diperlukan solusi politik yang komprehensif serta kolaborasi dari komunitas internasional untuk mengatasi konflik dan memastikan hak asasi manusia bagi Rohingya. Kesadaran global tentang kondisi mereka menjadi kunci dalam memberikan perlindungan yang layak serta mengakhiri penderitaan yang tak berkesudahan.
Mahasiswa menunjukkan pandangan yang beragam mengenai krisis kemanusiaan yang menghantam masyarakat Rohingya. Sebagian besar dari mereka menganggap situasi yang dihadapi oleh Rohingya sebagai tragedi yang membutuhkan perhatian global.
Beberapa mahasiswa merasa prihatin dengan perlakuan tidak adil yang dialami oleh Rohingya di Myanmar. Mereka menyoroti bahwa hak asasi manusia mereka telah sistematis dilanggar, termasuk hak atas kewarganegaraan, pendidikan, dan akses layanan kesehatan. Banyak yang mengutuk kekerasan yang mereka alami sebagai tindakan yang tidak dapat diterima.Terdapat pula mahasiswa yang mengkritik kurangnya perhatian dunia internasional terhadap penderitaan Rohingya. Mereka menekankan perlunya tindakan konkret dari pemerintah, organisasi internasional, dan lembaga kemanusiaan untuk memberikan bantuan dan perlindungan kepada masyarakat Rohingya yang terancam.
Namun, sejumlah mahasiswa memandang masalah ini dari perspektif yang lebih kompleks, melibatkan aspek politik, agama, dan sejarah yang terkait. Beberapa di antara mereka menekankan pentingnya pemahaman yang lebih mendalam mengenai konflik di wilayah tersebut serta kompleksitas faktor-faktor yang memperburuk kondisi masyarakat Rohingya.
Sebagian mahasiswa juga menyoroti pentingnya kesadaran akan isu kemanusiaan secara global. Mereka percaya bahwa pendidikan dan pemahaman yang lebih luas mengenai kepedulian terhadap hak asasi manusia menjadi kunci dalam menyelesaikan konflik serta memberikan perlindungan kepada masyarakat yang rentan, termasuk Rohingya.Secara keseluruhan, pandangan yang disampaikan oleh mahasiswa mengenai masyarakat Rohingya mencerminkan keprihatinan atas tragedi kemanusiaan yang sedang terjadi, serta menekankan perlunya respons yang lebih efektif dan terfokus dari komunitas internasional dalam menangani permasalahan tersebut.Sebagai mahasiswa, menyambut masyarakat Rohingya dapat dianggap sebagai kontribusi dalam mencapai keadilan sosial. Keadilan sosial merupakan usaha untuk menghapus ketidakadilan yang ada dalam masyarakat, termasuk dalam hal penanganan dan penerimaan terhadap kelompok-kelompok yang terpinggirkan atau menghadapi kesulitan.
Masyarakat Rohingya telah mengalami perlakuan tidak adil, konflik, serta penindasan yang memaksa mereka menjadi pengungsi dan mencari perlindungan di negara lain, termasuk Indonesia. Sebagai mahasiswa yang peduli terhadap keadilan sosial, menerima mereka dengan sikap inklusif bisa diartikan sebagai langkah pertama dalam memperjuangkan hak asasi manusia dan memberikan bantuan kepada kelompok yang membutuhkan.Namun, penerimaan masyarakat Rohingya juga dapat menjadi tantangan bagi negara dalam memenuhi kebutuhan mereka secara memadai, seperti tempat tinggal, layanan kesehatan, dan pendidikan. Sebagai mahasiswa, memberikan bantuan kepada mereka melalui berbagai cara seperti aksi sosial, penggalangan dana, atau meningkatkan kesadaran akan situasi yang dihadapi oleh masyarakat Rohingya merupakan langkah yang relevan untuk mendukung keadilan sosial.
Selain itu, sebagai mahasiswa, penting untuk memahami bahwa keadilan sosial juga memerlukan pemahaman yang mendalam terhadap berbagai masalah sosial serta keterlibatan dalam mencari solusi yang berkelanjutan. Ini dapat diwujudkan melalui advokasi, pendidikan publik, serta partisipasi dalam kegiatan sosial yang bertujuan untuk melindungi hak-hak mereka yang terpinggirkan.
Kesimpulannya, sebagai mahasiswa, menyambut masyarakat Rohingya bisa menjadi bagian dari upaya mewujudkan keadilan sosial dengan memberikan dukungan, meningkatkan kesadaran masyarakat, serta terlibat dalam upaya-upaya untuk mengatasi ketidakadilan sosial dan mendukung kelompok yang membutuhkan perlindungan.
- METODE PENELITIAN
Penelitian yang berfokus pada kasus Rohingya di Myanmar telah menarik perhatian dan menggunakan metode kualitatif. Pendekatan ini memungkinkan pengumpulan informasi yang mendalam, memperbolehkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang pengalaman serta sudut pandang individu yang terlibat dalam konflik tersebut.Penelitian kualitatif mengenai kasus Rohingya bisa terdiri dari wawancara mendalam dengan pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan di Myanmar. Pendekatan semacam ini memfasilitasi para peneliti untuk mendengarkan langsung cerita mereka, menangkap kerumitan pengalaman yang mereka alami, termasuk trauma yang terjadi serta aspirasi mereka untuk masa depan.Tidak hanya itu, analisis isi dari laporan, berita, dokumen resmi, dan rekaman video juga dapat menjadi bagian dari metode kualitatif ini. Ini memungkinkan para peneliti untuk mengidentifikasi pola-pola penting, naratif, dan tanggapan dari pihak yang terlibat.Menggunakan pendekatan etnografi juga dapat memberikan pemahaman yang mendalam tentang budaya, tradisi, dan kehidupan sehari-hari masyarakat Rohingya. Dengan melakukan observasi langsung dan interaksi dengan komunitas, peneliti dapat memahami konteks sosial, politik, dan ekonomi yang memengaruhi kehidupan mereka.Tetapi, perlu dicatat bahwa metode kualitatif memiliki keterbatasan, seperti subjektivitas peneliti serta kesulitan dalam menggeneralisasi hasil. Oleh karena itu, sering kali diperlukan pendekatan yang menggabungkan metode kuantitatif atau triangulasi data untuk meningkatkan validitas dan keandalan hasil penelitian.
Melalui penerapan metode kualitatif ini, para peneliti dapat menggali dimensi kompleks dari konflik Rohingya. Hasil penelitian ini mungkin memberikan pemahaman yang berharga bagi pembuat kebijakan, organisasi kemanusiaan, dan masyarakat internasional dalam usaha memahami kondisi yang dihadapi oleh Rohingya dan memberikan bantuan yang lebih efektif bagi mereka.
HASILDANPEMBAHASAN
- Pendapat Masyarakat Mengenai Datangnya rohingya
Pendapat masyarakat terhadap kedatangan masyarakat Rohingya bervariasi tergantung pada latar belakang sosial, politik, dan budaya di tiap negara. Sebagian besar negara menunjukkan solidaritas terhadap pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari krisis kemanusiaan. Namun, tantangan serta ketegangan juga muncul dalam menghadapi kedatangan mereka. Beberapa negara, terutama di Asia Tenggara, menjadi tempat tujuan bagi pengungsi Rohingya. Bangladesh menjadi salah satu tujuan utama, menampung lebih dari satu juta orang Rohingya di kamp-kamp pengungsi dengan pemerintahnya berusaha memberikan bantuan meski menghadapi tekanan dan keterbatasan sumber daya.
Respons terhadap kedatangan masyarakat Rohingya bervariasi di beberapa negara lain. Ada komunitas lokal atau pemerintah setempat yang menunjukkan dukungan, sementara yang lain menimbulkan ketegangan atau menolak kehadiran mereka atas alasan sosial, ekonomi, atau politik.Sebagian besar masyarakat memiliki simpati dan empati terhadap situasi masyarakat Rohingya. Ada upaya dari sektor swasta, organisasi nirlaba, dan individu untuk memberikan bantuan kemanusiaan serta dukungan dalam program-program integrasi. Namun, kekhawatiran terhadap perubahan demografis, ekonomi, atau keamanan juga hadir di beberapa komunitas lokal, memunculkan ketidakpercayaan atau penolakan terhadap keberadaan masyarakat Rohingya. Hal ini sering membutuhkan pendekatan hati-hati dalam mengintegrasikan mereka ke dalam masyarakat tuan rumah.
Pemerintah, lembaga internasional, dan organisasi kemanusiaan memiliki peran penting dalam menangani masalah ini. Kerja sama antar negara dan dukungan kemanusiaan diperlukan untuk memenuhi kebutuhan mendasar masyarakat Rohingya, termasuk perlindungan, layanan kesehatan, pendidikan, serta integrasi ke masyarakat tuan rumah. Pendekatan berbasis hak asasi manusia dan keadilan sangat penting dalam menangani krisis pengungsi Rohingya. Mengakui hak mereka untuk hidup layak, aman, dan mendapatkan akses layanan kesehatan, pendidikan, serta kesempatan membangun masa depan yang lebih baik merupakan hal yang esensial dalam menanggapi masalah ini.Kesadaran global tentang kondisi masyarakat Rohingya mendorong pencarian solusi yang berkelanjutan. Diperlukan komitmen dari seluruh komunitas internasional untuk bersama-sama menangani akar masalah yang menyebabkan krisis ini, serta memastikan solusi jangka panjang yang adil dan berkelanjutan bagi masyarakat Rohingya dapat ditemukan.
- Masyarakat Etnis Rohingya Menjadikan Indonesia Menjadi Titik Tujuannya
Masyarakat Rohingya telah memilih Indonesia sebagai tujuan mereka dalam pencarian perlindungan dan kehidupan yang lebih baik. Faktor-faktor seperti geografis, kemanusiaan, dan pertimbangan lainnya memengaruhi pilihan ini.Secara geografis, Indonesia menjadi pilihan karena letaknya yang berdekatan dengan Myanmar, negara asal masyarakat Rohingya. Hal ini membuat Indonesia menjadi salah satu opsi yang lebih mudah dijangkau bagi mereka yang mencari perlindungan dari konflik di negara asal. Selain itu, Indonesia memiliki jaringan migrasi yang sudah ada, mungkin melalui kontak dengan komunitas Rohingya yang sudah ada di negara ini.
Aspek kemanusiaan juga menjadi pertimbangan penting. Masyarakat Rohingya telah mengalami penganiayaan serius di negara asalnya, termasuk kekerasan, pelanggaran hak asasi manusia, dan diskriminasi. Ini mendorong mereka untuk mencari tempat yang aman dan berusaha membangun kehidupan yang lebih baik bagi keluarga mereka. Indonesia, dengan reputasinya sebagai negara yang terbuka terhadap pengungsi dan memiliki komitmen kemanusiaan yang kuat, menjadi destinasi yang masuk akal bagi masyarakat Rohingya yang mencari perlindungan. Adanya jaringan komunitas atau pengungsi Rohingya yang telah ada di Indonesia juga menjadi faktor lain yang mempengaruhi pilihan mereka. Kehadiran komunitas yang sudah mapan dapat memberikan dukungan sosial dan bantuan praktis kepada mereka yang baru tiba, membimbing cara bertahan hidup, serta memberikan informasi yang diperlukan untuk berintegrasi ke dalam masyarakat baru.
Namun, memilih Indonesia sebagai tujuan tidak selalu bebas dari hambatan. Meskipun Indonesia memiliki tradisi penerimaan pengungsi yang kuat, tantangan terkait status hukum dan integrasi seringkali menjadi masalah kompleks. Banyak pengungsi, termasuk masyarakat Rohingya, mengalami kesulitan dalam mendapatkan akses layanan kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan kebutuhan dasar lainnya. Ketidakjelasan status hukum juga menimbulkan ketidakpastian akan masa depan mereka di Indonesia.Selain itu, reaksi masyarakat Indonesia terhadap kedatangan masyarakat Rohingya juga menjadi pertimbangan penting. Walaupun Indonesia memiliki sejarah penerimaan pengungsi, sebagian masyarakat mungkin merasa cemas akan dampak sosial, ekonomi, atau politik dari kedatangan pengungsi baru. Beberapa orang mungkin khawatir akan persaingan di pasar kerja atau timbulnya masalah sosial akibat peningkatan jumlah penduduk asing.Dalam menghadapi situasi ini, penting bagi Indonesia untuk mengambil langkah yang berlandaskan pada kemanusiaan, perlindungan, dan integrasi yang lebih baik bagi pengungsi, termasuk masyarakat Rohingya. Pemerintah harus bekerja sama dengan lembaga kemanusiaan lokal dan internasional untuk memberikan perlindungan yang layak, akses terhadap layanan dasar, serta mendukung proses integrasi yang memadai bagi mereka yang memilih Indonesia sebagai tempat perlindungan dan kehidupan baru. Pendekatan yang holistik, berbasis pada kerja sama dan penghargaan terhadap hak asasi manusia, akan membantu menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi pengungsi, termasuk masyarakat Rohingya, di Indonesia.
- Masyarakat Aceh Menolak Pengunsi Rohingya.
Menolak kedatangan masyarakat Rohingya di Aceh merupakan suatu langkah yang mempertimbangkan banyak faktor yang terlibat. Aceh sendiri telah mengalami dampak parah dari bencana alam, terutama tsunami tahun 2004 yang menyebabkan kerugian besar baik dari segi kehilangan nyawa maupun rusaknya infrastruktur. Sebagai daerah yang merasakan penderitaan tersebut, respons masyarakat Aceh terhadap penerimaan atau penolakan kedatangan masyarakat Rohingya bisa dipengaruhi oleh sejumlah aspek.Penolakan tersebut kemungkinan berasal dari berbagai pertimbangan, termasuk kekhawatiran akan implikasi sosial, ekonomi, dan politik yang mungkin timbul karena kedatangan orang asing. Khawatir akan beban ekonomi tambahan bisa menjadi salah satu faktor utama, terutama jika masyarakat merasa bahwa pemerintah tidak mampu memberikan dukungan yang memadai kepada penduduk lokal, terutama setelah masih terdapat sejumlah masalah pasca-bencana tsunami yang belum terselesaikan.
Faktor sosial dan budaya juga menjadi pertimbangan penting. Aceh memilik warisan budaya yang kuat, dan kedatangan kelompok etnis Rohingya mungkin memunculkan ketegangan dalam dinamika sosial yang telah ada. Kekhawatiran akan konflik sosial atau budaya kadang menjadi alasan di balik penolakan.Meskipun demikian, menolak kedatangan masyarakat Rohingya juga menimbulkan pertanyaan etika dan kemanusiaan. Rohingya sendiri merupakan kelompok yang telah mengalami penganiayaan serius di negara asalnya dan mencari perlindungan dari konflik yang berlarut-larut. Mereka mencari tempat yang aman untuk hidup dan bertahan. Dalam konteks ini, penolakan kedatangan mereka dapat dipertanyakan dalam konteks nilai-nilai kemanusiaan, terutama jika penolakan tersebut didasarkan pada kepentingan egois atau prasangka terhadap kelompok lain.Menghadapi situasi ini, pendekatan yang lebih luas dan berbasis pada keadilan serta kemanusiaan mungkin menjadi solusi yang lebih baik. Daripada menolak secara langsung, pemerintah dan masyarakat Aceh bisa berkolaborasi untuk menemukan solusi yang mempertimbangkan kepentingan semua pihak. Penyelesaian masalah secara kooperatif dan inklusif dapat menciptakan lingkungan yang lebih harmonis bagi kedua kelompok.
Pada skala yang lebih luas, membangun pemahaman dan kesadaran tentang kondisi masyarakat Rohingya, serta upaya mengurangi ketakutan dan prasangka masyarakat Aceh, juga merupakan langkah penting. Edukasi, dialog lintas-budaya, dan pembentukan pemahaman bersama tentang nilai-nilai kemanusiaan dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan mendukung bagi mereka yang sedang mengalami kesulitan.
- Pandangan Mahasiswa Terhadap Datanganya Masyarakat Etnis Rohingya.
Sebagai seorang mahasiswa, menanggapi situasi rumit seperti penerimaan masyarakat Rohingya di Indonesia melibatkan evaluasi terhadap faktor-faktor moral, hukum, kemanusiaan, serta implikasi sosial, ekonomi, dan politik yang signifikan. Keputusan terkait penerimaan masyarakat Rohingya di Indonesia tidaklah simpel karena melibatkan beragam pertimbangan yang harus dipertimbangkan secara serius.Dari perspektif kemanusiaan, memberikan perlindungan kepada masyarakat Rohingya yang menjadi pengungsi dan melarikan diri dari kekerasan serta konflik di Myanmar merupakan sikap yang layak dipertimbangkan. Ini sejalan dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia yang menghormati hak setiap individu untuk hidup dengan aman dan layak. Indonesia yang diakui memiliki semangat gotong royong dan nilai-nilai kemanusiaan dapat mempertimbangkan tanggung jawab moral untuk membantu mereka yang membutuhkan perlindungan.Namun, terdapat beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan secara hati-hati terkait penerimaan masyarakat Rohingya di Indonesia. Pertama, evaluasi terkait kesiapan negara dalam menyediakan infrastruktur, sumber daya, layanan kesehatan, pendidikan, serta tempat tinggal bagi para pengungsi Rohingya. Proses penerimaan pengungsi memerlukan dukungan logistik yang besar dan pemenuhan kebutuhan dasar yang tidak dapat diabaikan.
Selain itu, perlu mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi dari integrasi masyarakat Rohingya di Indonesia. Hal ini mencakup potensi konflik sosial, perubahan demografis, persaingan tenaga kerja, dan implikasi terhadap perekonomian lokal. Diperlukan pendekatan yang cermat untuk memastikan integrasi mereka tidak menimbulkan ketegangan di masyarakat setempat.Aspek hukum dan kebijakan juga merupakan pertimbangan penting. Indonesia memiliki kewajiban untuk mematuhi peraturan internasional yang terkait dengan perlindungan terhadap pengungsi, seperti Konvensi PBB tentang Status Pengungsi. Pastikan bahwa penerimaan masyarakat Rohingya di Indonesia sejalan dengan prinsip-prinsip hukum internasional sangatlah penting.
Selain itu, diperlukan komitmen dan kerjasama antarnegara dalam menangani masalah pengungsi Rohingya secara menyeluruh. Ini termasuk kerjasama dengan Myanmar untuk menyelesaikan akar masalah konflik dan memastikan restorasi hak kewarganegaraan bagi masyarakat Rohingya.Sebagai mahasiswa, penting untuk memahami latar belakang yang kompleks dalam isu ini, melakukan penelitian yang teliti, dan berpartisipasi aktif dalam dialog serta aksi yang bertujuan untuk menemukan solusi yang adil dan berkelanjutan bagi masyarakat Rohingya. Hal ini dilakukan tanpa mengabaikan kepentingan dan kesiapan Indonesia sebagai negara tuan rumah.Menerima masyarakat Rohingya di Indonesia bukanlah keputusan yang mudah atau sederhana. Dibutuhkan evaluasi yang mendalam serta partisipasi aktif dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga internasional, organisasi kemanusiaan, dan masyarakat secara keseluruhan, guna memastikan bahwa langkah-langkah yang diambil memperhatikan kesejahteraan dan kepentingan semua pihak yang terlibat.
Setelah membagikan Google form Kepada Mahasiswa IAIN Parepare, 90% Mahasiswa IAIN Parepare tidak Setuju Kedatangan Masyarakat Rohingya Di Indonesia di sebabkan beberpa faktor seperti, mempengaruhi ekonomi Negara, dan lain lain.
- Peran Mahasiswa dalam Menyikapi Agar Masyarakat Etnis Rohingya Tidak Bertambah Banyak.
Peran mahasiswa menjadi krusial dalam merespons kedatangan masyarakat etnis Rohingya agar jumlahnya tidak semakin bertambah. Mahasiswa memiliki potensi untuk menjadi agen perubahan dalam masyarakat dengan melakukan sejumlah langkah yang dapat membantu menangani situasi ini.
Pertama, mahasiswa dapat meningkatkan pengetahuan publik mengenai krisis yang dihadapi oleh masyarakat etnis Rohingya. Melalui kegiatan seperti kampanye sosial, seminar, diskusi, dan upaya edukatif lainnya, mahasiswa dapat menyebarluaskan informasi yang akurat dan menggugah kesadaran tentang kondisi yang dihadapi oleh Rohingya.
Kedua, mahasiswa dapat turut serta dalam kegiatan kemanusiaan dan bantuan sosial. Mereka dapat mengumpulkan dana, barang bantuan, atau terlibat secara langsung dalam program-program bantuan yang bertujuan membantu masyarakat Rohingya yang terdampak konflik.
Ketiga, mahasiswa memiliki peran dalam memperjuangkan aksi politik yang lebih luas untuk meningkatkan kesadaran internasional dan memberikan tekanan pada pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. Lewat demonstrasi, petisi, atau aktivitas advokasi lainnya, mereka dapat memperjuangkan perubahan kebijakan yang dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat Rohingya.
Keempat, mahasiswa juga dapat mempromosikan perdamaian dan toleransi. Mereka dapat mengadakan kegiatan yang membangun kesadaran akan pentingnya toleransi antar-etnis serta perdamaian sebagai solusi jangka panjang dalam menyelesaikan konflik antara Rohingya dan masyarakat lokal.
Dengan melibatkan diri dalam cara-cara ini, mahasiswa dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam upaya mencegah bertambahnya masalah yang dihadapi oleh masyarakat etnis Rohingya. Dengan kesadaran, tindakan konkret, advokasi, dan pendekatan edukatif yang tepat, mereka dapat menjadi agen perubahan yang berpengaruh dalam menangani krisis kemanusiaan ini.
KESIMPULAN
Situasi masyarakat Rohingya di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti geografi, budaya, dan politik. Banyak negara, khususnya di Asia Tenggara, mendukung perjuangan Rohingya melawan krisis hak asasi manusia. Namun, ketegangan dan perlawanan juga terjadi. Beberapa negara, seperti Bangladesh, memiliki kehadiran warga Rohingya yang kuat dalam perjuangan mereka melawan pemerintah. Indonesia dipandang sebagai pemain penting dalam mempromosikan hak-hak Rohingya dan memastikan kondisi kehidupan yang lebih baik. Faktor-faktor seperti geografi, budaya, dan ancaman mempengaruhi hubungan ini. Kedekatan geopolitik Indonesia dengan Myanmar menjadikannya pilihan yang tepat bagi warga Rohingya untuk melawan konflik di negara tersebut. Mahasiswa, sebagai mediator, dapat membantu mengatasi krisis Rohingya melalui kampanye kesadaran publik, program pendidikan, dan evaluasi implikasi moral, hukum, kemanusiaan, sosial, ekonomi, dan politik. Perspektif moral komunitas Rohingya di Indonesia sangat penting dalam mengatasi situasi mereka dan memperjuangkan hak-hak mereka.
SARAN
Saat membuat jurnal selanjutnya semoga bisa langsung turun ke lapangan , agar kami sebagai pembuat jurnal bisa merasakan dan melihat secara langsung, Terima kasih kepada pihak pihak yang terlibat dalam pembuatan jurnal ini, dan mohon maaf yang sebesar besarnya jika jurnal tersebut belum mendekati kata sempurna.
DAFTARPUSTAKA
Azizah. (2006) Pemberontakan Sporadis Muslim Rohingya Pasca Kemerdekaan Burma 1948-1988. Jakarta: Universitas Indonesia.
Pramono, A. (2010) Peran UNHCR Dalam Menangani Pengungsi Myanmar Etnis Rohingya di Bangladesh (Periode 1978-2002). Jakarta: Universitas Indonesia.
Sihbudi, R. dkk. (2000) Problematika Minoritas Muslim di Asia Tenggara: Kasus Moro, Pattani, dan Rohingya. Jakarta: PPW-LIPI.
Rosyid, M. (2019). Peran Indonesia Dalam Menangani Etnis Muslim Rohingya di Myanmar.Jurnal Hukum Dan Pembangunan, 49(3), 630.
Fahrul Umam, Iskandar , 2020, Perlindungan Warga Sipil Etnis Rohingya Dari Diskriminasi Pemerintahan Myanmar,Khazanah Multidisiplin,12-21
Indah Nur Azizah, 2017, Peranan Indonesia Dalam Membantu Penanganan Masalah Etnis Rohingya Di Myanmar (2014-2017), Global Political Studies Journal, Vol. 1 No. 2, 173-177
Setiawan, A., & Hamka. (2019). Peran Diplomasi Kemanusiaan Indonesia Terhadap Krisis Rohingya di Myanmar. Universitas Muhamadiyah.
Kurniawan, N. (2018). Kasus Rohingya dan Tanggung Jawab Negara Dalam Penegakan Hak Asasi Manusia. Jurnal Konstitusi, 14(4), 4.
Ullah, A., & Chattoraj, D. (2018). Roots of Discrimination Against Rohingya Minorities: Society, Ethnicity and International Relation. International Islamic University Malaysia, 26(2), 19
Arianta, K., Gede Sudika Mangku, D., Putu Rai Yuliarti, & Ni Putu Rai Yuliarti; Dewa Gede Sudika Mangku. (2020). Perlindungan Hukum Bagi Kaum Etnis Rohingya Dalam Perspektif Hak Asasi Manusia. E-Journal Komunitas Yustitia Universitas Pendidikan Ganesha, 3(2), 169.
Lewa Chris, 2008, North Arakan: an open Prison for the Rohingya in Burma, Forced Migration Review, Volume 32, Refugee Studies Centre University of Oxford, London.
Kurniawan Nalom, 2017, “Kasus Rohingya dan Tanggung Jawab Negara dalam Penegakan Hak Asasi Manusia”, Jurnal Makhamah Konstitusi, Jakarta. (**)
Nur Afifah Firman1, Sitti Nur Hafidzah Lukman2,Nurul Asqia3
1,2,3Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Fakultas Tarbiyah, IAIN Parepare, Indonesia




