Jakarta, Berita-Kita | Ajakan MUI (Majlis Ulama Indonesia) kepada seluruh lapisan masyarakat untuk melakukan taujihat dengan cara melakukan langkah strategis dan fundamental (DetikNews, 26 Agustus 202) agar (1) mengembalikan semangat bersatu dan bersana demi dan unruk kepentingan bangsa dan negara Indonesia tanpa harus menghilangkan perbedaan pendapat yang ada melalui ruang-ruang dialog setts pertemuan pemikiran yang berbeda, dan pada forum perjumpaan antar kelompok masyarakat yang berbeda. Sehingga rakyat tidak perlu elergi terhadap perbedaan pendapat, dan tidak serta merta otomatis menjadikan pihak lain yang tidak sepaham dengan dirinya sebagai musuh yang harus ditolak atau dimusnahkan.

Artinya, upaya pengembalian dari makna menyatu itu karena telah terjadinya perpecahan, perceraian atau hilangnya sikap kompak dalam kontek kebersamaan dalam berbangsa seperti tekah menjadi salah satu sila dari Pancasila, yaitu persatuan Indonesia yang mengikat bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kecuali itu, kepada pemerintah makna dari taujihat kebangsaan yang dimaksudkan MUI meliputi pula agar (2) semangat untuk selalu mengedepankan persatuan dan kesatuan bangsa tidak menghalangi sikap kritis seperti yang pernah dilakukan oleh para pendiri bangsa untuk saling bertukar pikiran, bahkan bisa berbeda pendapat. Hingga permintaan ini pun mengindikasikan adanya perilaku yang sebaliknya, ketika MUI menganggap perlu memberi worning pada pemerintah tentang indikasi dari adanya kerawanan dalam perpecahan yang merupajan ancaman bagi kelangsungan bangsa maupun negara Indonesia.

Silang pendapat atau gesekan pemikiran yang acap meruncing dilakukan demi kepentingan yang lebih konstruktif, dan demi untuk membangun dan menguatkan ekonomi Nasional, maka sikap ktitis warga bangsa Indonesia tidak boleh diabaikan atau bahkan terkesan diterima dengan sinisme yang tak jelas pemaknaan hingga solusinya.

Padahal, setajam apa pun kritik dan perbedaan pendapat itu seharusnya tidak menjadi halangan pada hubungan personal untuk tetap dijaga dengan baik agar bisa terus terjalin dalam suasana yang akrab, hangat, rukun dan damai.

Dari telaah MUI terhadap situasi dan kondisi Indonesia hari ini jekas dari sikap kritis adanya perbedaan pendapat seperti yang terjadi pada founding fathers dahulu, namun tetap menjadi berkah bagi bangsa dan negara Indonesia, tanpa harus jadi ancaman serta perpecagan bagi anak bangsa dalam upaya membangun negeri tercinta kita, Indonesia.

Satu diantara sekian banyak pertanyaan yang menarik, apakah suasana ideal seperti itu yang dapat dilakukan oleh para pendahulu kita dahulu itu tidak mampu dijadikan tauladan dan pijakan sikap lebih bijak pada hari ini ?

Apalagi kemudian terkait dengan taujihat MUI yang jelas meminta agar (b) pihak pemerintah tidak perlu merasa alergi atau apriori terhadap kritik dan pikiran yang berbeda dari masyarakat. Karena sikap seperti itu sudah sering dilakukan dengan cara pendekatan represif yang menggunakan instrumen hukum untuk membungkam atau bahkan memenjarakan para pengkritik, hingga tidak sedikut yang menjadi embrio menjadikan diri mereka yang kritis terhadap l perilaku pemerintah selalu diakhiri oleh kegaduhan atau keonaran atau bahkan di ruang penjara yang dingin dan beku.

Seruan taujihat Kebangsaan yang dikemukahan MUI dari forum Musyawarah Kerja Nasional di Jakarta pada 25 Agustus 2021 menjadi perhatian serius GRMI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) yang berkepentingan dengan masalah bangsa dan persatuan Indonesia. Karena menurut Ketua Umum GMRI, Eko Sriyanto Galgendu, bahwa seruan untuk mengajak seluruh elemen bangsa dalam upaya menjaga dan membangun keutuhan bangsa sebagai kekuatan yang dakhstat bagi bangsa dan negara Indonesia, patut dikatakan menjadi harga yang tidak bisa ditawar-tawar. Karens semus itu harus dan dapat kita pertahankan, tandas Eko Sriyanto Gelgendu dalam dialog saat perjalanan pulang dari Rengas Dengklok menujj Jakarta, Jum,at petang 27 Agustus 2021

Seruan MUI
(d) mengajak semua pemangku kepentingan untuk menghentikan segala bentuk polarisasi yang akan membawa dampak destruktif bagi bangsa Indonesia, sungguh patut kita hadapi bersama, kata Ketua Umum GMRI yang juga pengusaha kuliner sukses di lingkaran satu kawasan Istana Negara Jakarta Pusat. Karenanya, menurut dia, diperlukan adanya kesadaran untuk mengembalikan semangat saling menyatu dan menjadikan kepentingan bangsa di atas semua kepentingan yang ada, ujarnya Eko Sriyanto Gangendu yang sepakat dengan seruan MUI tersebut.

Selaku pengemban amanah Gus Dur bersama Susuhunan PB XII serta para tokoh lintas agama, Eko Sriyanto Galgendu selaku Ketua Umum GMRI yang dititipi amanah rekonsiliasi bangsa dalam kontek moral, dia juga menilai apa yang diserukan oleh MUI itu selaras dengan apa yang diamanahkan oleh para tokoh dan pemimpin bangsa serta petinggi agam-agama di Indonesia yang diemban Ekk Sriyanto Galgendu sejak beberapa tahun silam. Amabah itu pada intinya untuk dapat kembali pada tatanan moral dan etika bangsa yang mengakar dalam budaya serta menjadi kepribadian bangsa Indonesia.

Ajakan MUI (e) kepada segenap pemimpin bangsa untuk senantiasa mengedepankan contoh (qudwah hasanah) seperti yang dilakukan oleh para pendiri bangsa terdahulu, tanpa harus kehilangan sikap kritis daalam perbedaan pendapat maupun sikap itu yang memang harus — dan dapat terus diprlihara — hingga tak perlu dipaksa agar sama. Karena dalam perspektif agama sesungguhnya, perbedaan itu adalah rachmat untuk semua pihak yang berbeda.

Kecuali itu, Eko Sriyanto Galgendu juga sepakat bahwa dalam masyarakat yang majemuk seperti di Indonesia, perbedaan yang menjadi bagian dari ciri khas bangsa Indonesia memang suatu keniscayaan. Oleh sebab itu simbol dalam lambang negara Indonesia yang merentang itu dimaknai oleh Bhineka Tunggal Ika.

Ajakan khusus MUI (f) agar para pegiat dunia maya (netizen) bisa ikut berperan dalam menciptakan suasana dialogis yang konstruktif dalam masyarakat dan terciptanya forum-forum pertautan ide yang saling menghargai pendapat untuk menghadapi pandemi COVID-19 maupun Varian Delta yang melantak hidup dan penghidupan warga bangsa kita, perlu dihadapi dengan semangat kebersamaan dan persatuan dalam konteks ideal kebangsaan kita yang luhur dan patut menjadi tauladan terdepan bangsa-bangsa di dunia. Hingga kelak Indonesia dapat menjadi pemimpin dunia, kata Eko Sriyanto Galgendu yakin dan optomis, ketika gerakan kebangkitan kesadaran spititual bangsa berhasil kita wujudkan di persada nusantara ini. (**)