Kota Gorontalo, Belajar Tentang Perpustakaan Lorong di Makassar

    315

    Makassar, Berita-Kita | Perpustakaan Dinas Kota Gorontalo terkesima dan puas atas penjelasan tokoh literasi Sulsel yang juga penggagas perpustakaan lorong kota Makassar, Bachtiar Adnan Kusuma tentang inovasi perpustakaan lorong di Sulsel. Rombongan studi banding Dinas Perpustakaan Kota Gorontalo dipimpin Yusnita Pantu diterima Sekdis Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sulsel Ir.Lubis, M.T. beserta staf di Perpustakaan Provinsi Sulsel, Jl.Sultan Alauddin, Rabu 5/2.

    Bachtiar Adnan Kusuma diundang khusus Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulsel untuk mengurai keberadaan perpustakaan lorong di depan rombongan Dinas Perpustakaan Kota Gorontalo. BAK menjelaskan kalau perpustakaan lorong adalah perpustakaan berbasis masyarakat yang melibatkan peran serta masyarakat ikut aktif terlibat menyediakan ruang baca di lorong-lorong.

    See also  Tindak Lanjuti SE Walikota, Beni Iskandar Sosialisasikan Ojol ke Karyawan PDAM Makassar

    Apa yang dilakukan oleh masyarakat bersama warga membuka perpustakaan di lorong adalah kesadaran kolosal sebagai wujud implementasi UU Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan Pasal 3 menegaskan pentingnya peran masyarakat ikut terlibat menyediakan ruang baca. Karena itu, perpustakaan lorong sebuah contoh baik, bagaimana membangun kesadaran besar hidup berliterasi dari lorong tanpa harus menggantungkan pada pemerintah.

    “Kami bersyukur karena dukungan Ibu Gubernur Sulsel, Dinas Perpustakaan Provinsi Sulsel, Tokoh masyarakat Sulsel, PTN PTS serta lurah dan camat bersama-sama merajut kata membesarkan perpustakaan lorong di kota Makassar,” papar Sekjend Asosiasi Penulis Profesional Indonesia pusat ini.

    Sementara itu, Pimpinan Rombongan Perpustakaan Gorontalo, Yusnita Pantu, merasa puas dan inspirating penjelasan BAK.

    See also  Tindak Lanjuti SE Walikota, Beni Iskandar Sosialisasikan Ojol ke Karyawan PDAM Makassar

    “Bagus sekali penjelasan dan inovasinya tentang perpustakaan lorong di Kota Makassar. Mudah-mudahan bisa kami tiru dan contoh di Gorontalo,” harap Yusnita Pantu. (**)