Berita-Kita.com | Sejumlah cabang olahraga di Kabupaten Jeneponto masih mengeluhkan minimnya dukungan fasilitas dan anggaran menjelang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulawesi Selatan di Bone dan Wajo.
Persoalan yang sebelumnya disampaikan dalam rapat dengar pendapat bersama DPRD Jeneponto itu belum sepenuhnya terjawab dalam pertemuan lanjutan yang difasilitasi Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora).
Dalam pertemuan di Kantor Dispora Jeneponto, Senin (26/10/2026), sejumlah pengurus dan pelatih cabang olahraga kembali mempertanyakan kepastian pengadaan alat tanding, perlengkapan atlet, serta pemerataan dana pemusatan latihan atau training center (TC).
Keluhan tersebut mencuat setelah Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara KONI Jeneponto, cabang olahraga, dan Komisi IV DPRD Jeneponto pada 15 Oktober 2026. Rapat dipimpin Ketua Komisi IV Awaluddin Sinring bersama Irsal Azis.
Dalam RDP itu, DPRD mengingatkan KONI agar menggunakan anggaran sesuai peruntukannya berdasarkan proposal tahun 2025 untuk kegiatan 2026. Dispora yang hadir melalui sekretaris dinas kemudian berjanji memediasi seluruh keluhan cabang olahraga.
Namun, persoalan kebutuhan atlet kembali menjadi pembahasan dalam pertemuan lanjutan tersebut.
Ketua KONI Jeneponto, Darwis Dg Nojeng, dalam pertemuan itu justru menyampaikan besaran bonus bagi atlet yang berhasil meraih medali. Peraih emas dijanjikan Rp15 juta, perak Rp8 juta, dan perunggu Rp5 juta.
“Bonus atlet peraih medali emas Rp15 juta, medali perak Rp8 juta, dan medali perunggu Rp5 juta,” kata Darwis.
Untuk pelatih, KONI mengalokasikan bonus sebesar 20 persen yang bersumber dari bonus atlet. Sementara bonus bagi atlet peraih juara nomor beregu masih dalam pembahasan internal KONI.
Sekretaris KONI Jeneponto, Aroel Serang, juga menyampaikan bahwa kostum defile, topi, kaus jersey, celana training, uang saku, serta biaya transportasi atlet dan pelatih akan diberikan saat pelepasan kontingen oleh Bupati Jeneponto.
Akan tetapi, persoalan yang paling mendesak bagi sejumlah cabang olahraga justru menyangkut kebutuhan peralatan pertandingan.
Pelatih pencak silat mengkritik lambannya dukungan KONI. Ia bahkan meminta pengurus organisasi olahraga tersebut mengevaluasi kinerjanya jika tidak mampu memenuhi kebutuhan cabang olahraga.
“Kompak saja kalau tidak ada alat pertandingan. Cabor buang handuk saja. Ini kegiatan wajib KONI, sepertinya KONI tidak punya progres dalam menghadapi Porprov. Bahkan pembagian dana TC tidak merata. Kalau tidak mampu urus KONI, ya mundur saja,” ujarnya.
Pelatih sepak takraw, Syarifuddin, juga mempertanyakan penggunaan anggaran KONI. Menurut dia, kebutuhan mendasar atlet seperti sepatu, kaus kaki, dan bola takraw belum mendapat dukungan.
“Jangankan alat tanding, kostum atlet takraw saja sulit. Kaus kaki, sepatu, dan takraw tidak ada dukungan KONI, sedangkan waktu tersisa sedikit. Ke mana anggaran KONI, kenapa bisa seperti ini?” kata Syarifuddin.
Ketua FORKI Jeneponto, Andi Zulkarnain Kr Pasang, mengingatkan bahwa peralatan pertandingan karate harus memenuhi standar World Karate Federation (WKF). Pengadaan perlengkapan juga membutuhkan waktu sedikitnya tujuh hari dengan pembayaran tunai.
“Alat tanding dan pakaian tanding harus sesuai standar karate internasional (WKF). Kami hanya mengandalkan dana dari KONI. Bila KONI tidak memfasilitasi hak atlet, otomatis tidak bertanding,” ujarnya.
Kritik lebih keras disampaikan Ketua PTMSI Jeneponto, Muslimin Rowa. Ia mempertanyakan transparansi pengelolaan anggaran dan prioritas pembiayaan KONI menjelang Porprov.
Ia menilai pembiayaan kostum defile semestinya dapat dibantu sponsor sehingga anggaran organisasi bisa lebih difokuskan pada kebutuhan pertandingan atlet.
Sementara Ketua ISSI Jeneponto, Andi Patoppoi Lomba, mengungkapkan dana TC sebesar Rp2 juta yang diterima cabangnya telah habis digunakan untuk kebutuhan latihan. Atlet sepeda bahkan harus menjalani latihan lintas kabupaten dengan kondisi perlengkapan yang terbatas.
“Kami tiap hari pemusatan latihan. Dana TC yang hanya Rp2 juta sudah habis. Kami TC sepeda menelusuri aspal Jeneponto ke Bulukumba, bahkan ke Takalar. Berulang kali ban sepeda bocor dan sepeda hanya status pinjam pakai. KONI Jeneponto hanya melihat komentar cabor di grup WhatsApp, tetapi tidak ada solusi,” katanya.
Ketua PPTI Panjat Tebing Jeneponto, Hartawan Kr Lomba, juga mengeluhkan minimnya perhatian terhadap kebutuhan atlet selama TC. Ia menyebut atlet telah berlatih di Jeneponto, Bantaeng, hingga Makassar, tetapi dukungan vitamin dan kebutuhan pelatih belum terpenuhi.
“Vitamin tidak disupport untuk atlet, apalagi untuk pelatih. Lalu bagaimana nanti saat Porprov? Dananya kan dari KONI, kami cabor hanya siapkan atlet,” ujarnya.
Berbagai keluhan tersebut memperlihatkan adanya persoalan yang belum selesai dalam persiapan kontingen Jeneponto. Di satu sisi, KONI telah menyampaikan besaran bonus bagi peraih medali. Di sisi lain, sejumlah cabang olahraga masih menunggu kepastian anggaran dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk bertanding.
Dengan waktu persiapan yang semakin terbatas, persoalan tersebut menuntut penyelesaian konkret. Sebab, janji bonus setelah pertandingan tidak serta-merta menjawab kebutuhan atlet sebelum berlaga di arena Porprov.




